Kamis, 28 April 2011

S A B A R


 

I. PENGERTIAN SABAR

A. Menurut bahasa 
Asal kata sabar adalah al man’u (menahan) dan al Habsu (Mencegah) jadi sabar adalah  menahan jiwa dari cemas, lisan dari mengeluh, dan organ tubuh dari menampar pipi, merobek-eobek baju, dan  lain sebagainya.[1]  Allah ta’ala berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ … {28}
“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru tuhannya.” (Qs. Al Kahfi : 28)
B. Menurut Ulama’ salaf
1. Al Junaid bin Muhammad pernah ditanya tentang sabar, ia menjawab sabar ialah meneguk sesuatu yang pahit tanpa memberengut.
2.  Dzun Nun berkata: “Sabar ialah menjahui larangan, tenang ketika menenggak musibah, dan menampakkan dirinya kaya padahal dirinya miskin harta.
3. Abu Utsman berkata: ”As shobar ialah orang yang membiasakan hal-hal yang tidak mengenakkan.”
4. Ammar bin Utsman al makki berkata:”Sabar ialah tegar bersama Allah dan menghadapi ujian-Nya dengan lapang dada dan tenang. “
5. Al Khowwas berkata:”Sabar ialah tegar terhadap hukum-hukum al Qur’an dan as sunnah.”
6. Ruwaim berkata:”Sabar ialah meninggalkan keluh kesah”.
7. Abu Ali berkata:” Sabar itu seperti namanya sendiri”.
8. Ali bin Abi Tholib:”Sabar ialah seperti kendaraan yang tidak terperosok”.
9. Abu Muhammad al Jariri berkata:” Sabar ialah tidak membedakan antara nikmat dan ujian disertai dengan ketentraman hati didalam menjalankan keduanya.”
10. Ada yang mengatakan bahwa sabar adalah menghadapi musibah dengan akhlak yang baik”
11.  Ulama lain berkata:”Sabar adalah meminta pertolongan kepada Allah.”
12. Ada yang mengatakan sabar adalah berada pada musibah dengan penyikapan yang baik sebagaimana pada sehat dengan penyikapan yang baik.[2]

II. DALIL-DALIL TENTANG SABAR

              A. Dari Al qur an
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {200}
       Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran : 200)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
       Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al Baqoroh : 155)

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ أَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ {10}
     Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu".Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. Az Zumar :10)
وَالَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ الْبَغْىُ هُمْ يَنتَصِرُونَ {39}
     Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. (QS. As Syura’ : 39)
يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ {153}
     Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqoroh :153)


B. Dari as sunnah
عَنْ أَبِى مَالِكِ الْحَارِث بن عاصِم الأَشْعَرِى رضي الله عنه قَالَ ، قَالَ  رسول الله صلى الله عليه و سلم : الطَّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، وَ الْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ وَ سُبْحَانَ اللهُ وَ الْحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ أَوْ تَمْلأ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَ الأَرْضِ، وَ الصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَ الصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَ الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُوْ، فَبَائِعُ نَفْسَهُ فَمُعْتِقَهَا أَوْ مُوْبِقَهَا . رواه مسلم
     Dari Abi Malik Al Haritsi bin Ashim Al ‘Asy’ari r.a. telah berkata, bersabda Rosulullah saw. : Kebersihan itu sebagian dari iman, Alhamdulillah memenuhi (memberatkan) timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah keduanya memenuhi ruang yang ada di langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shodaqoh itu adalah dalil dan sabar itu adalah cahaya serta Al Qur’an itu hujjah (bukti) untuk membelamu atau menentangmu. Setiap manusia adalah bekerja, maka ada yang menjual dirinya, untuk menyelamatkan dirinya atau mencelakakannya. (HR. Muslim)

عَنْ أَبِى يَحْيَ صَحِيْبُ بْنُ سِنَانِ رضي الله عنه قال : قال  رسول الله صلى الله عليه و سلم : عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ كَانَ لَهُ خَيْرٌ وَ لَيْسَ ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِمُؤْمِنٍ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُمْ. (رواه مسلم )
    
     Dari Abu Yahya Syuhaib bin Sinan berkata, Rosulullah saw. bersabda : “Menakjubkan keadaan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya serba baik, hal itu tidak dimiliki seorangpun kecualil orang yang beriman. Apabila mendapat kebaikan maka ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia sabar, maka ini baik pula baginya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللَّهم عَنْهم إِنَّ نَاسًا مِنَ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …..وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ *

     Artinya: “Dari Abu Said Al Khudhri RA dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: …Dan Tidaklah seseorang itu diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran (HR Bukhori dan muslim)
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ
     Artinya:”Perumpamaan kesabaran dari iman itu seperti kedudukan kepala dari badan (HR. Ad Dailamy)
 سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
     Artinya:”Dari Abu Hurairoh RA berkata:”Bersabda Rosulullah SAW :” siapa yang dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan maka ia akan diberi musibah (HR. Bukhori)

 أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
     Artinya:” Tidaklah ada musibah yang menimpa orang mukmin melainkan Allah menghapus dosanya dengan musibah itu ternasuk pada duri yang menusuknya (HR Bukhori dan Muslim)

              C. Perkataan ulama salaf [3]

1. Imam Ahmad berkata, bahwa berkata kepada kami Waqi’ dan Malik bin Maghul dari As Safari yang berkata: Bahwa Abu Bakar r.a. menderita sakit, kemudian ia menjenguknya. Orang-orang berkata, kenapa kita tidak memanggil dokter untukmu? Abu Bakar menjawab: Aku sudah dilihat oleh dokter. Mereka berkata: Apa yang dilakukan dokter untukmu? Abu Bakar menjawab bahwa dia mengatakan bahwa sesungguhnya aku pasti melakukan apa saja yang aku inginkan.

2.      Umar RA berkata:
وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ
“Kami mendapatkan kebaikan hidup kami dengan bersabar.”
3. Umar juga berkata:
أَفْضَلُ الْعَيْشِ أَدْرَكْنَاهُ بِالصَّبْرِ, وَ لَوْ أَنَّ الصَّبْرَ كَانَ مِنَ الرِّجَالِ كَانَ كَرِيْمًا
”Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar jika sabar itu berasal dari seseorang, pasti ia tergolong orang dermawan.
4. Ali RA berkata: ”Ketahuilah bahwa posisi sabar bagi iman adalah seerti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus maka matilah badan. Kemudian ia meinggikan suaranya:” Ketahuilah bahwa tidak beriman orang yang tidak sabar.
5. Al Hasan berkata:
الصَّبْرُ كَنْزٌ مِنْ كُنُوْزِ الْخَيْرِ لاَ يُعْطِيْهِ اللهُ إِلاَّ لِعَبْدٍ كَرِيْمٍ عِنْدَهُ
”Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang baik. Allah tidak memberikannya kecuali kepada hambaNya yang mulia disisi-Nya.
6. Umar bin Abdul Aziz berkata: Allah tidak memberikan suatu kenikmatan kepada salah seorang hamba-Nya kemudian Dia mencabutnya dari orang tersebut dan menggantinya dengan sabar maka penggantinya tersebut lebih baik dari pada apa yang dicabut dari padanya”.
7. Al Hasan berkata: “Sabar adalah anugerah yang tidak habis-habisnya.”
8. Maimun bin Mihron berkata: seseorang tidak mendapatkan tanda kebaikan dan yang lebih kecil dari padanya kecuali dengan sabar
9. Sulaiman bin Al Qosim berkata: Setiap amal perbuatan maka pahalanya bisa diketahui kecuali sabar karena Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hanya orang yang sabar itu yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar:10) Sabar itu seperti air yang mengalir deras.
10. Umar bin Khottob r.a. berkata: Seandainya sabar dan syukur itu seperti dua ekor unta maka aku tidak peduli mana diantara keduanya yang aku naiki.
11. Jika Muhammad bin Syubruman mendapatkan musibah ia berkata: ”Musibah ini adalah awan musim panas kemudian ia lenyap.”
12. Salah seorang ulama meletakkan secarik kertas didalam sakunya yang ia keluarkan dalam setiapa waktu untuk melihatnya dan didalamnya tertulis :”Dan bersabarlah terhadap hukum Robmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami. (At Thur : 48)
13. Ditanyakan kepada Al Ahnaf : Apakah murah hati itu, Al Ahnaf menjawab, yaitu hendaknya anda sabar terhadap apa yang anda benci.
14. Imam Ahmad berkata Bahwa Abdus Shomad telah berkata bahwa salam berkata kepada kami bahwa aku mendengar Qotadah berkata: bahwa seseorang telah bertanya kepada Lukman: Apakah yang paling baik, Lukman menjawab: Sabar yang tidak diikuti dengan mengganggu. Orang itu bertanya : Siapakah manusia yang paling baik? yaitu orang yang ridlo terhadap apa yang  diberikan kepadanya. Orang tersebut bertanya siapakah manusia yang  paling tahu? Lukman menjawab: Yaitu orang yang menggabungkan ilmu manusia kepada ilmunya. Orang tersebut bertanya: Manakah yang lebih baik antara kekayaan harta dengan kekayaan ilmu? Lukman menjawab: Maha suci Allah sesungguhnya orang mukmin yang mengetahui ialah orang yang jika ia mencari kebaikan pada dirinya maka ia menjaga dirinya. Cukuplah bagi orang mukmin itu menahan dirinya.
15. Hasan bin Abu Jablah berkata: ”Barang siapa yang menceritakan apa yang dialaminya maka ia tidak bersabar
16. Hasan bin Abu Jablah juga berkata mengenai firman Allah, “Maka itu adalah sabar yang baik”. Kata Hasan yaitu sabar yang tidak ada keluhan didalamnya
17. Al Hasan berkata: “Tidak ada dua teguk yang dicintai Allah dari seteguk musibah yang menyakitkan yang disikapi pelakunya dengan penyikapan yang baik dan sabar dan seteguk emosi yang dihadapi pelakunya dengan sabar.”[4]

III. POTRET KESABARAN ROSULULLAH SAW [5]

1. Dari Abdillah bin Ja’far RA berkata, ketika Nabi SAW berdakwah kepada seorang pemuda bangsa Quraisy setelah wafatnya Abu Tholib maka orang itu melempar tanah kewajah Nabi SAW, sesampainya Nabi dirumah , salah seorang  putrinya datang untuk membersihkan wajah beliau sambil menangis. Nabi menghibur putrinya, ”Hai putriku janganlah kau susah hati karena Allah selalu melindungi ayahmu. Dulu waktu Abu Tholib masih hidup bangsa quraisy tidak berani menggangguku, kini mereka berani.[6]
2. Dari Urwah bin Zubair RA berkata, Aku bertanya kepada Ibnu ‘Ash : Apakah yang diperbuat kaum Quraisy terhadap Nabi yang paling keras? ”Pernah pada suatu hari Nabi sedang melakukan sholat didekat ka’bah tiba-tiba datanglah Uqbah bin Abi Mu’aid  dengan sebuah kain dan langsung diikat kepada leher Nabi SAW sehingga beliau hampir tercekik atas perbuatan Uqbah itu. Disaat itu tiba-tiba datanglah Abu Bakar As Siddiq RA dengan menarik pundak Uqbah dan melepaskan Nabi dari cekikannya seraya berkata: ”Apakah kamu akan membunuh seorang yang berkata: ”Rob ku adalah Allah, padahal dia telah datang dengan membawa satu bukti? Jawab Ibnu Ash.[7]
3. Dari Mumbitul Azdi berkata” Aku lihat Rosulullah SAW dimasa jahiliyah ketika beliau berkata kepada orang quraisy, “Hai kaumku katakanlah bahwa tidak ada Ilah selain Allah agar kamu selamat” Disaat itu ada yang meludahi wajah beliau, sebagian lagi ada yang melemparkan tanah diatas kepalanya, bahkan ada lagi yang memakinya sampai tengah hari. Kemudian ada seorang wanita yang membawa kendi air kepada beliau lalu membasuh muka dan kedua tangannya sambil berkata kepada wanita itu, “Wahai putriku janganlah merasa khawatir atas diriku dari pembunuhan atau penghinaan” Ketika aku tanyakan siapakah wanita itu, mereka menjawab: ”Wanita itu adalah putri beliau sendiri yaitu Zainab, seorang putri yang cantik.”[8]
4. Dari Amru Bin Ash RA berkata: Tidak pernah kusaksikan quraisy membunuh Nabi SAW kecuali pada suatu hari yang telah direncanakan yaitu diwaktu Nabi sedang sholat di dekat ka’bah, tiba-tida Uqbah bin Mu’ith datang  mencekik Nabi dengan selendangnya kemudian kain itu ditariknya dengan keras sehingga Nabi itu terjatuh dan orang-orang disekitarnya menjerit karena dikira beliau pasti terbunuh. Disaat itu tiba-tiba datanglah Abu Bakar menarik Uqbah dari belakang untuk melepas Nabi sambil berkata: Apakah kamu akan membunuh seseorang yang berkata Robku adalah Allah. Kemudian orang quraisy yang berkumpul itu menyingkir dan Nabi meneruskan sholatnya. Setelah selesai sholat beliau lewat ditempat orang quraisy yang sedang kumpul sambil berseru.” Hai orang quraisy, Demi Allah semoga Allah menurunkan adzab-Nya atas kamu semua” Sambil mengisyaratkan tangannya pada leher beliau. Disaat itu Abu Jahal berkata aku tidak bodoh. Beliau menjawab,” Engkau adalah salah seorang yang akan terbunuh”. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
     Do’a Nabi itu dikabulkan oleh Allah pada perang Badar, dimana kaum musyrikin diadzab dengan pedih dan terbunuhnya gembong musyrikin Abu Jahal.
          5.  Urwah Bin Zubair berkata:”Aisyah pernah bertanya kepada Nabi SAW adalah kesusahan yang lebih berat dari hari Uhud ? Nabi menjawab, perlakuan kaummu pada waktu aqobah adalah hari yang paling susah sekali bagiku, yaitu ketika aku mengajak kaummu masuk Islam, aku ditentang oleh Ibnu Abdiyalail bin Abdi Kalal, sehingga aku pulang dalam keadaan lemah dan pingsan. Ketika aku berada di Tsalaib aku lihat langit tengah berawan dan aku lihat malaikat datang kepadaku untuk menghiburku dan berkata : Allah telah mendengar segala ucapan kaummu dan Allah mengutus malaikat penjaga gunung berseru kepadaku “Hai Muhammad apakah kamu inginkan aku timpakan kedua gunung ini kepada mereka, Nabi menjawab “tidak” Aku harap semoga akan keluar dari anak cucu mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.[9]

IV. POTRET KESABARAN PARA SALAF [10]
1. Kesabaran Amar bin Yasir
Dari Jabir RA Bahwasanya Rosulullah pada suatu hari melewati Amar dan keluarganya dan mereka sedang disiksa maka beliau bersabda : Bergembiralah kamu wahai keluarga Yasir sesungguhnya Jannah telah dijanjikan kepada kalian (HR Thobroni, Al Hakim dan Baihaqi)
2. Kesabaran Bilal bin Robah
Ahmad bin Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata”Yang pertama menganut Islam sebanyak tujuh orang yaitu: Rosulullah, Abu Bakar, Amar,  berserta Ibunya sumaiyyah, Suhaib, Bilal dan Miqdad bin Aswad Rosulullah terlindung dengan pamannya sedang Abu Bakar r.a. terlindung dengan kaumnya sedang yang lainnya semuanya ditimpa siksaan dengan besi dan dijemur diterik matahari sehingga tak seorangpun dari mereka kecuali terpaksa menerima kehendak kaumnya quraisy kecuali Bilal bin Robbah yang tabah sekali. Bilal sangat tabah sekali menghadapi penyiksaan kaumnya, dimana kaumnya menyiksanya dan diseret oleh anak-anak kecil keliling kota Makkah dan beliau hanya berkata Ahad, Ahad, Ahad.
Abu Nuaim meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah berkata: Pernah pada suatu hari ketika Bilal disiksa, Waroqoh bin Naufal berkata ” Ahad, Ahad, Ahad kemudian Waroqoh berkata kepada Bilal “Apakah kamu berkata Ahad, Ahad, Ahad wahai Bilal lalu Waroqoh menemui majikannya Umaiyyah bin Kholaf karena dialah yang menyiksa bilal dan berkata kepadanya demi Allah kalau sampai Bilal terbunuh pasti akan kupuja kuburnya. Bilal  terus disiksa dan pada suatu hari Abu Bakar r.a. lewat kemudian berkata kepada Umaiyyah, “Tidakkah kamu takut kepada Allah atas perbuatanmu itu pada hamba yang sangat miskin ini dan sampai kapankah kamu akan melepaskan orang ini? Umaiyyah menjawab, ”Kamu sendiri yang telah merusak akidahnya, karena itu selamatkanlah ia dengan sekehendakmu “Abu Bakar menjawab “Aku punya hamba lebih hitam, lebih kuat dan seaqidah denganmu karena itu akan aku tukarkan dengannya. Usul Abu Bakar disetujui Umayyah lalu ditukarnya.
3. Kesabaran Khobab bin Arts
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari sa’by :”ketika Khobab masuk majlis Umar bin Kottob, maka Umar mendudukkan beliau ditempatnya sambil berkata, “Tidak seorangpun dimajlis ini yang berhak menduduki tempat ini selain dari seorang lagi”. “Siapakah orang itu ? Tanya Khobab. “Orang itu adalah Bilal. Jawab Umar. Khobab berkata “Bilal tidak lebih berhak dari padaku, karena Bilal waktu disiksa oleh kaum musyrikin, masih ada dari mereka yang menolongnya, sedang aku tidak seorangpun  yang menolongku, wahai Umar tidaklah kamu pernah melihatku ketika aku disiksa dengan api sambil diinjak-injak diatas tanah sehingga hanya punggungku saja yang merasa dinginnya tanah”. Kemudian dia membukakan punggungnya bekas terbakar. Dan pada suatu hari Umar bertanya kepada Bilal tentang perlakuan orang quraisy, dan ketika itu Khobab berkata kepada Umar:’Ya Amirul mukminin lihatlah punggungku ! ”Sambil membuka punggungnya. Umar berkata,” Demi Allah aku tidak pernah menyaksikannya kecuali hanya sekarang”. Khobab berkata: ”Mereka menyiksaku dengan api, dan api itu tidak terpadamkan kecuali dari cairan dari punggungku”.
4. Abu Dzar Al Ghiffari
Abu Dzar Al Ghiffari, setelah mendengar kenabian Nabi Muhammad e. ia mengutus saudaranya ke Makkah untuk mencari informasi. Setelah saudaranya kembali ia melaporkan kepada Abu Dzar. Saudaranya berkata: ”Aku lihat orang itu mengajak kepada perbuatan baik dan membaca satu kalimat yang tidak serupa dengan syair”. Abu Dzar berkata,’Belum cukup apa yang aku minta”. Kemudian ia membawa bekal secukupnya dan air minum lalu ia pergi sendiri ke kota Makkah. Sesampainya di Makkah ia langsung mencari Nabi tetapi tidak bertemu, dan ia tidak menanyakan kepada siapapun selama tiga malam ia tidur didalam masjid. Maka pada malam ketiga Ali bertanya kepadanya: ”Maukah kamu memberitahukan kepadaku apa sebabnya kamu datang kemari? Abu Dzar menjawab,” Kalau kamu mau berjanji untuk menunjukkan aku, pasti aku kabarkan”. Setelah Ali berjanji, maka Abu Dzar menceritakan maksudnya. Ali berkata,”Benar, beliau adalah utusan Allah, besok pagi ikutilah aku akan aku tunjukkan tempatnya jangan sampai diketahui orang”. Esok harinya Abu Dzar berjalan bersama Ali menuju ketempat Nabi, ia mendengarkan ajakan beliau, kemudian masuk Islam. Nabi bersabda:”Sekarang kembalilah ke kampungmu dan ajarkanlah Islam kepada mereka sampai aku utus seseorang kepadamu”. Abu Dzar berkata,”KeIslamanku ini  akan aku syiarkan kepada orang Quraisy, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,” Waktu kaum quraisy mendengar dua kalimat syahadat, mereka memukuli Abu Dzar sampai roboh. Ketika Abbas datang langsung membangunkan Abu Dzar dan mencegah kaum quraisy, ia  berkata”Apakah kamu tidak tahu bahwa orang itu dari Ghifar dan kafilah dagangmu melalui kotanya, karena itu jauhkanlah perbuatanmu”. Keesokan harinya Abu Dzar mengulangi perbuatannya kembali, dan orang quraiys memukulinya kembali. Dan ketika Abbas melihat kejadian itu beliau menolongnya lagi.[11]
5. Mus’ab bin Umair
Mus’ab bin Umair pada zaman jahiliyah tergolong sebagai pemuda yang paling tampan di kota Makkah. Kedua orang tuanya sangat cinta kepadanya, dan ibunya tergolong orang yang paling kaya dan selalu memberikan pakaian yang paling bagus. Ia seorang yang paling harum baunya di kota Makkah dan selalu mamakai sandal kasut dari Hadhral Maut. Nabi pernah menceritakan keadaan Mus’ab bin Umair di masa mudanya. Mus’ab bin Umair  adalah orang yang paling tampan di kota Makkah, tidak ada yang paling bagus pakaian dan tidak ada yang lebih nikmat kehidupannya dari pada Mus’ab bin Umair.
Ketika mendengar kenabian Muhammad ia pergi kerumah Arqom bin Abil Arqom untuk menyatakan keislamannya kepada beliau. Setelah itu menyembunyikan keislamannya takut diketahui ibu dan kaumnya, sementara ia tetap pergi kerumah Arqom secara rahasia. Pada suatu hari ada yang memberitahukan kepada ibunya bahwa Mus’ab dilihatnya melakukan sholat, karenanya Mus’ab dipenjarakan oleh ibunya dan kaumnya dan  tidak dilepaskan dari penjara sampai ia berhijrah ke Habasyah. Wajahnya telah berubah karena susah,sehingga ibunya berhenti untuk menyiksanya Hari-harinya dilalui penuh dengan kemiskinan dan penderitaan Ibunya mogok makan karena Mus’ab tidak mau kembali pada agama nenek moyang sehingga ibunya mati, Mus’ab tetap teguh dalam prinsip dan pendiriannya bagaikan karang ditengah lautan. Hingga akhir hidupnya ia hidup melarat dan miskin demi cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
Pada suatu hari ketika disuguhkan makanan untuk berbuka puasa dihadapan Abdurrohman bin Auf, sewaktu pandangannya tertuju pada makanan itu ia menangis sambil mengeluh,”Mus’ab bin Umair telah gugur sebagai syuhada’ sedang ia adalah seorang yang jauh lebih baik dari padaku. Ia hanya mendapat kain kafan sehelai burdah, jika ditutup kedua kakinya maka tampaklah kepalanya.”
Rosulullah bersabda :
“Ketika di Makkah dahulu tidak ada seorangpun kulihat  yang lebih halus  pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari pada kamu. Tapi sekarang rambutmu hanya dibalut dengan sehelai Burdah. Dahulu aku lihat Mus’ab ini tidak ada yang mengimbangi  dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan rasulNya.

V. MACAM-MACAM SABAR

       Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa: belaiau bersabda:
     “ Sabar itu ada tiga macam: Sabar dalam menghadapi maksiyat, sabar untuk taat dan sabar untuk menghadapi musibah hingga dia dapat menolak musibah itu dengan menganggap baik kedukaannya, maka Allah menetapkannya baginya tiga ratus derajat yang jarak amtara satu derjat dengan yang lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Barang siapa sabar untuk taat ditetapkan baginya enam ratus derajat yang jarak antara satu dengan yang lain seperti derajat antara batas bumi hingga keujung arsy. Barang siapa yang sabar dalam menghadapi kedurhakaan , Allah menetapkan sembilan ratus derajat kepadanya yang jarak antara satu dengan yang lainnya seperti jarak antara batas bumi hingga keujung arsy.”  (HR Ibnu Abi Dunya dan Abu Syaikh)[12]

A. Sabar dalam menghadapi kemaksiyatan
Kiat bersabar dari maksiyat
1.    Pengetahuan seorang hamba terhadap keburukan maksiyat dan kehinaannya. Sesungguhnya Allah SWT melarangnya mengerjakan maksiyat, karena ingin melindunginya dan menjauhkannya dari kehinaan, sebagaimana perlindungan seorang ayah yang penyayang terhadap anaknya dari apa saja yang membuat anaknya menderita. Fakta inilah yang membuat orang yang berakal meninggalkan maksiyat, kendati maksiyat itu tidak didapatkan dengan ancaman siksa.
2.    Malu kepada Allah SWT. Jika seorang hamba mengetahui  penglihatan Allah ta’ala kepadanya, posisinya diatasnya, dilihatnya, ditanganNya dan bahwa Allah ta’ala pemalu, pasti hamba tersebut merasa malu jika ia melaksanakan perbuatan yang mengantarkannya kepada murka-Nya.
3.    Ingat akan nikmat Allah ta’ala yang diberikan kepada anda dan kebaikanNya kepada anda. Dosa dan maksiyat itu menghilangkan nikmat ini adalah sebuah kepastian. Ketika hamba melaksanakan dosa, maka salah satu nikmat Allah ta’ala hilang dari dalam dirinya dan itu tergantung kepada besar kecil dosa yang yang ia lakukan. Jika ia bertaubat dan kembali kepada Allah maka nikmat terasa kembali kepadanya sebaliknya jika ia bertahan pada dosanya, maka nikmat tersebut tidak kembali kepadanya. Dosa dosanya menghapus nikmat demi nikmat hingga semua nikmat hilang, maksiyat membakar nikmat sebagaiman api membakar kayu.
4.    Ketakutan seorang hamba akan siksa Allah. Ini terealisir  jika ia membenarkan janji-Nya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. Takut kepada Allah ta’ala menguat dengan ilmu dan keyakinan dan melemah seiring dengan melemahnya ilmu dan keyakinan. “Sesungguhnya yang taat kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya  hanyalah Ulama’” (Fatir : 28)
       Salah seorang salaf berkata: “Ketakutan kepada Allah itu sudah cukup untuk dijadikan ilmu dan terpedaya dari Allah adalah kebodohan.
5.    Cinta kepada Allah ta’ala. Inilah sebab terkuat hingga membuat orang yang  sabar tidak menentang Allah dan tidak bermaksiyat kepadaNya. Sesorang taat kepada siapa yang dicintainya, Semakin kuat dominasi cinta didalam hatinya, maka tuntutan taat kepada kekasihnya dan tidak melawannya semakin kuat. Maksiyat dan penentangan yang dilakukan oleh seseorang itu bersumber dari cintanya yang lemah dan melemahnya dominasi cinta di dalam hatinya. Ada perbedaan yang mendasar antara orang yang tidak bermaksiyat kepada tuannya karena didasari rasa takut akam hukuman cambuk dari tuannya dengan orang yang meningalkan maksiyat karena didasari rasa cinta kepada tuannya
6.    Kemulyaan jiwa seseorang, kesuciannya dan keutamaannya membuat orang tersebut tidak mengambil sebab-sebab yang menjuruskannya, menghilangkan harga dirinya, merendahkan statusnya, menghinakannya, dan menyamakannya dengan orang-orang yang hina dina
7.    Pengetahuan yang kuat dari seseorang akan hasil buruk yang diakibatkan karena maksiyat, pengaruh negatifnya dan kerusakan yang ditimbulkannya seperti wajah menjadi hitam, hati menjadi gelap, dada terasa sesak galau sedih, sakit, terkekang, keguncangan jiwa, perpecahan, ketidakmampuannya melawan musuhnya, penelenjangan dirinya dari perhiasan  yang semestinya (pakaian takwa), keruwetan, kekerasan, dan kebingungan dalam semua urusan, ditinggalkannya perlindunganya dan penolongnya, dikendalikan musuhnya yang paling nyata, ilmu yang tadinya disiapkan untuknya menjadi tersembunyi darinya ia lupa akan semua yang pernah didapatkannya atau tidak begitu hafal, sakit  yang membawanya kepada kematiam dan itu bukan hal yang mustahil karena pada hakekatnya maksiyat itu mematikan hati, orang terhormat berubah menjadi orang hina, kalau ia sebelumnya adalah pernguasa yang disegani lawan-lawannya maka ia berubah menjadi tawanan digenggaman tangan lawan-lawannya, kewibawaan berkurang hingga seorang pengusasa tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan rakyatnya atau bangsa lain hingga tidak ada satu pun dari rakyatnya yang mematuhi perintahnya. Keamanan berubah menjadi ketakutan karena orang yang paling penakut ialah orang yang  paling banyak kesalahannya, jinak berubah menjadi jalang dan semakin banyak kesalahannya. Maka kejalangannya semakin meningkat pula, ridlo berubah menjadi murka hidup tenteram dengan Allah ta’ala dan berlindung disamping-Nya berubah menjadi terusir dan jauh dariNya dan terjerumus kedalam sumur penyesalan.
8.    Keinginan yang pendek dan pengetahuan seorang hamba bahwa dalam waktu cepat ia akan meninggalkan dunia. Ia seperti musafir yang masuk kesalah satu perkampungan yang sebentar lagi ia akan keluar darinya. Atau seperti pengembara yang bernaung dibawah pohon kemudian meninggalkannya untuk meneruskan perjalanan. Karena pengetahuannya akan keberadaannya yang cuma sebentar di dunia dan tidak lama lagi ia akan meninggalkan dunia. Maka ia serius meninggalkan apa saja yang memberatkan bawaannya, membahayakannya dan tidak membawa manfaat baginya. Tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba selain cita-cita yang pendek dan tidak ada yang membahanyakan baginya selain menunda-nunda pekerjaan dan cita-cita yang panjang.
9.    Menjauhkan diri dari berlebih-lebihan didalam makanan, minuman, pakaian, tidur dan berkumpul dengan manusia, karena dorongan untuk bermaksiyat muncul dari hal-hal yang ada diatas. Semua hal-hal yang ada diatas membutuhkan alokasi dan yang cukup besar jika ia tidak mendapatkanya dari usaha yang halal, maka ia mencarinya dari usaha yang haram. Diantara hal-hal lain yang membahayakan seorang hamba adalah menganggur dan kesepian.
       Sesungguhnya jiwa itu tidak pernah kosong  jika tidak sibuk dengan apa yang bermanfaat baginya maka ia sibuk dengan apa yang merugikannya.
10. Yang merupakan kesimpulan faktor-faktor diatas adalah kekokohan pohon iman didalam hati seorang hamba. Kesabaran seorang hamba dari maksiyat adalah karena imannya yang tangguh jika keimanannya menguat, maka menguat pula kesabarannya. Sebaliknya manakala keimanannya melemah, maka melemah pula kesabarannya. Barang siapa mengelola hatinya dengan melaksanakan perintah Allah ta’ala, mengharamkan apa yang diharamkan-Nya benci terhadap hal-hal yang haram serta mengisi hatinya dengan keimanan kepada adanya pahala, siksa, Jannah dan Nar, maka pantang baginya tidak memperhatikan hal ini. Barang siapa menduga bahwa sabar dari maksiyat bisa kuat tanpa iman yang tangguh, maka itu salah besar. Jika pelita iman menguat di dalam hati, dan menyinari semua penjuru hatinya, maka cahaya tersebut telah menyebar ke seluruh organ tubuh lalu organ tubuh itu segera menyambut seruan iman dan tunduk kepadanya, serta tidak merasa berat di hati. Ia berbahagia dengan seruan iman ketika seruan iman memanggilnya. Sebagaimana seorang muhib (pecinta) berbahagia dengan undangan kekasihnya untuk datang kerumah kemuliaannya, dalam setiap waktu, ia selalu menanti undangan kekasihnya dan siap memenuhi undangannya. Allah ta’ala mengkhususkan pahalanya kepada siapa yang dikehendakinya. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia yang sangat banyak.[13]

B. Sabar di dalam ketaatan
          Bisa terjadi dengan mengetahui aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya ditambah dengan mengetahui pengaruh-pengaruh positif yang dihasilkan keta’atan (Ibadah). Diantara aspek-aspek yang paling kuat yang membuat orang bersabar terhadap ketaatan ialah iman dan  cinta. Jika dorongan iman dan cinta ini kuat didalam hati menguat pula dorongan untuk taat.
          Dalam hal ini, ada permasalahan yang dibincangkan oleh banyak  orang, manakah yang lebih baik diantara sabar dari maksiyat dengan sabar dalam ketaatan?
          Sekelompok ulama memilih pendapat pertama dengan berkata bahwa sabar dari maksiyat adalah salah satu ciri dari orang-orang yang jujur seperti yang dikatakan oleh salah seorang generasi salaf:
“Perbuatan baik bisa dikerjakan oleh orang yang baik-baik dan orang yang jahat dan tidak ada yang sanggup meninggalkan maksiyat kecuali orang yang jujur. Kata mereka karena motif maksiyat lebih kuat dari pada motif taat, maka tidak heran kalau motif maksiyat lebih disenangi jiwa. Sedangkan motif yang mengajak orang untuk tidak taat adalah malas, nganggur. Jadi tidak disangsikan bahwa motif maksiyat itu lebih kuat dari pada motif taat.
          Kata mereka lagi, sesungguhnya dalam maksiyat terkumpul dorongan jiwa, hawa nafsu, syetan, dunia, sahabat-sahabat, tuntutan menyerupai mereka dan meniru mereka, serta kecenderungan watak. Kesemuanya dorongan di atas menyeret orang kedalam maksiyat dan menghendaki dampak negatifnya. Maka bagaimana jika semua dorongan diatas bertemu dan menyerang hati seseorang ?  adakah kesabaran yang lebih kuat dari kesabaran dari memenuhi ajakannya? Seandainya Allah tidak membuatnya bersabar pasti ia tidak bisa bersabar terhadap semua dorongan tersebut!!
          Ada lagi kelompok lain yang mengatakan bahwa sabar  terhadap ketaatan itu lebih dari pada sabar dari maksiyat. Mereka berkata, Bahwa mengerjakan perintah itu lebih utama dari pada meninggalkan larangan disamping dua puluh hujjah yang lain, tidak disangsikan, bahwa mengerjakan perintah itu terealisir jika didorong dengan kesabaran terhadapnya. Maka jika mengerjakannya saja lebih utama, maka bersabar terhadapnya juga lebih baik. Ringkasnya bahwa sabar dari maksiyat berbeda dengan sabar terhadap ketaatan dan itu tergantung terhadap ketaatan dan kemaksiyatan itu sendiri. Sabar terhadap ketaatan yang besar lebih baik dari pada sabar dari maksiyat yang kecil dan sabar dari maksiyat yang besar lebih baik dari pada sabar dari ketaatan yang kecil. Kesabaran seorang hamba terhadap jihad misalnya ini lebih utama dan lebih agung dari kesabarannya dari dosa-dosa kecil dan kesabarannya dari dosa-dosa besar dan perbuatan keji itu lebih agung dari pada kesabarannya terhadap sholat shubuh, shiyam sunnah dan sebagainya. Wallahu a’lam.[14]

C. Sabar terhadap cobaan
Sabar terhadap cobaan terjadi karena beberapa aspek, diantaranya:
1.    Mengetahui imbalan cobaan dan pahalanya
2.    Pengetahuan seorang hamba bahwa cobaan itu menghapus kesalahan kesalahannya
3.    Pengetahuan seorang hamba akan takdir yang telah ditentukan untuknya
4.    Pengetahuan seorang hamba terhadap Allah ta’ala atas dirinya dalam cobaan
5. Pengetahuan seorang hamba bahwa cobaan adalah karena dosa yang telah dilakukannya.
       Ali RA berkata: Musibah tidaklah datang kecuali karena dosa-dosa, ia tidak ter angkat kecuali dengan taubat
6.    Pengetahuan seorang hamba bahwa Allah ta’ala telah meridloi cobaan tersebut mengenai dirinya dan memilihnya untuknya.
7.    Pengetahuan seorang hamba bahwa cobaan adalah obat mujarab yang diberikan dokter yang maha tahu akan kemaslahatan dirinya
8.    Pengetahuan seorang hamba bahwa dibalik obat tersebut terdapat kesembuhan, kesehatan dan hilangnya rasa sakit
9.    Pengetahuan seorang hamba bahwa cobaan tidak datang untuk membinasakan dirinya dan membunuhnya, justru cobaan datang padanya untuk menguji sejauh mana kesabarannya sehingga persoalan menjadi jelas, apakah ia layak dijadikan wali-Nya dan masuk kedalam partai-Nya atau tidak ?
10.  Sesungguhnya Allah mendidik hambaNya dalam keadaan suka dan duka nikmat dan ujian untuk memunculkan ubudiyah dari hamba tersebut dalam semua kondisi.[15]






VI. ADAB SABAR
           
Adab-adab kesabaran harus dipakai pada awal terjadinya keguncangan.
Berdasarkan sabda Nabi SAW : “Sabar itu pada guncangan yang pertama” (HR Bukhori dan Muslim). Diantara adab sabar ialah :
1. Al Istirja’ saat ditimpa musibah yaitu mengucapkan
إنَّا للهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
“Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh kepada-Nyalah kita akan kembali”
berdasarkan firman Allah SWT : ”Dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang sabar yaitu apabila ditimpa suatu musibah mereka mengucapkan “inna lillahi wainna ilahi rojiun” (QS Al Baqoroh 155-159)
2. Menegangkan anggota tubuh dan lidah  serta boleh menangis. Sebagian orang bijak berkata:”Hati yang terguncang tidak bisa mengembalikan apa yang sudah lepas dari tangan tapi ringankanlah rasa kecewa”.
3. Tidak menampakkan pengaruh musibah terhadap orang yang terkena musibah. Seperti yang dilakukan oleh Ummu Sulaim, istri Abi tholhah tatkala anak mereka meninggal dunia.
Tsabit Al Banani berkata: Abdullah bin Muttorrif meninggal dunia lalu ayahnya keluar rumah menemui kaumnya sambil mengenakan pakaian yang bagus dan mentereng. Mereka merasa marah melihat perbuatannya ini. Mereka berkata: ”Abdullah meninggal dunia tapi engkau justru keluar rumah dengan mengenakan pakaian sebagus itu. Mutorrif berkata: ”Apakah aku harus merana karena kematiannya? Robku telah menjanjikan kepadaku tiga perkara yang setiap perkara lebih kusukai dari pada dunia seisinya. Allah berfirman :”Yaitu orang-orang yang ditimpa mereka mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi rojiun” mereka itulah yang mendapat barokah yang sempurna dan rohmat dari Robnya  dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk (QS Al Baqoroh:156-157) [16]



[1] Uddatus Shobirin wa Dzakirotus Syakirin, 15

[2] Uddatus Shobirin wa Dzakirotus Syakirin, 16-19

[3] Uddatus Shabirin, 94-97
[4]  Uddatus Shobirin wa Dzakirotus Syakirin, 94-97
[5]  Rojulun Shalih, 219
[6]  HR. Baihaqy dalam hidayah, III/ 42
[7]  HR. Bukhori, Al Bidayah,  III/46
[8]  Thobroni dalam Haitsami, hal. 21
[9]  HR Bukhori, 1/458
[10]  Rojulun Shalih, 226-229

[11] HR. Bukhori 1/544
[12]  Mukhtashor minjahul qoshidin, 257
[13]  Thoriqu Hijratain ‘Hijrah Paripurna Menuju Allah dan Rosul-Nya’, 367-374
[14] Thoriqu Hijratain ‘Hijrah Paripurna Menuju Allah dan Rosul-Nya’, 374-375
[15] Thoriqu Hijratain ‘Hijrah Paripurna Menuju Allah dan Rosul-Nya’, 375-377
[16]  Mukhtashor Minhajul Qoshidin, 209

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar